Kali ini saya akan berbagi sebuah cerita "agak" horor dari sebuah tugas bahasa inggris. Maaf kalau bahasanya campur-campur.. buat cerita horor. Silahkan membaca! ^_^
Night at My House
malam ini orangtuaku akan pergi ke reuni sekolah mereka. Aku hanya ditemani oleh adikku, Mia. Mia masih berumur 6 tahun. Dia sangat suka sekali dengan cupcake. Malam ini aku dan Mia akan membuat cupcake bersama.
"Sunny, mama pergi dulu ya. Tolong jaga adikmu. Hati-hati di rumah. Kunci pintu dan jendela. Nanti malam akan ada hujan."
"Okay, Mom." Lalu, mama dan papa pun pergi.
Aku menuju ke dalam rumah. Kulihat rumahku sangat besar dan sedikit mengerikan malam ini. Rumahku dibangun oleh kakekku 56 tahun yang lalu. Tidak ada dinding yang terbuat dari batu bata. Semuanya terbuat dari kayu. Rumahku bergaya tudor atau mirip rumah-rumah di Texas. Kumasuki rumahku dan segera kukunci pintu dan jendela. Kulihat langit mulai menghitam. Aku lalu menaiki tangga menuju kamar Mia. Kulihat Mia sedang bermain dengan barbienya. Tapi.. Tapii.. kenapa muka barbie itu seperti berdarah? Ah, mungkin hanya terkena crayon milik Mia.
"Mia, let's go to kitchen. I wanna some cupcakes to eat."
"Cupcake? Sure. Let's go!" Mia beranjak dari tempat tidurnya. Dia berlari menuju dapur. Aku dan adikku segera membuat adonan. Aku sedang menyiapkan panggangan. Sedangkan, Mia sedang mengaduk adonan. Namun tiba-tiba.. DUUAAR!!!
suara gemuruh guntur yang sangat besar. "AAHH!!!" Mia berteriak dan menjatuhkan adonannya. Namun, adonan cupcake itu mengotori tangan Mia. "Mia, let me wash yor hand." Mia hanya mengangguk. Aku lalu menempatkan tangan Mia dibawah kran air. Aku menyalakan kran air itu. Ah?! Apa ini?! air yang keluar bewarna merah. Aku segera menutupnya. Kunyalakan kembali kran itu. Namun, yang keluar adalah air bersih dan jernih. Huh, tonight is really weird. Akhirnya cupcakeku sudah matang. Aku dan Mia menuju ruang keluarga untuk memakan cupcake sambil menonton TV.
"How is the cupcake? Is it delicious?"
"Yup. This cupcake is the best cupcake ever! Aaww...Uhuk.."
"Mia? Are you okay?" Mia memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Bentuknya bulat putih berlumuran cairan bewarna merah. Aku lihat benda itu. Dan itu adalah.... mata. Aku segera membuangnya. Aku segera membersihkan mulut Mia yang berlumuran darah.
"Sunny, i'm thirsty. Please, take me an orange juice."
"Sure. Just wait here." Aku segera menuangkan juice jeruk ke gelas. Lalu, aku menuju ruang keluarga. Namun, hujan bertambah deras. Kulihat Mia hanya terdiam di sofa. Rambutnya yang panjang menutupi punggungnya. Aku datang dari samping kiri Mia. "Mia, this is your orange juice." Mia memutar kepalanya ke kiri dan sekarang aku bisa melihat mukanya. Muka yang sangat aneh. Mata Mia. Mata Mia! hilang?! Mukanya pun berlumuran darah. Tangannya mulai menunjuk padaku. Aku... Aku.. tak bisa bergerak. Prank! Aku melemparkan gelas yang kupegang ke kepala gadis aneh itu.
"Who are you?!! What do want from me?! " Dia menunjuk mataku. Benar-benar menunjuk mataku.
"My eyes? MIA!!! Don't you ever do that." DUAR! Suara gemuruh guntur yang sangat besar. Cahaya kilat memasuki ruang keluarga dan menerangi wajah gadis itu. Dia tersenyum. Tapi, itu senyum yang sangat aneh. Senyum seorang pembunuh. Mia mulai mendekatiku. Aku sudah terpojok. Mia masih menunjuk mataku. Lalu, kudengar suara bel rumah berbunyi. Mungkin itu ayah dan ibu. Mungkin mereka bisa membantu. Aku segera mendorong Mia sampai jatuh. Aku berlari sekencangnya menuju pintu. Kubuka pintu itu. Kulihat ayah dan ibuku berdiri di depan pintu. aku segera memeluk mereka.
"Mom, Dad, Mia is trying to kill me." Tapi, mereka hanya diam. Kurasakan badan mereka sangat dingin. Aku berjalan mundur 2 langkah. Kulihat wajah mereka. WHAT???!!! mata mereka. juga hilang. Aku segera berlari ke dalam rumah. Namun di pintu sudah ada Mia. Aku segera berbalik. Tapi ayah dan ibuku sudah menghadang. Aku berlari ke pojok taman. Aku terpojok diantara dinding. Ayah, Ibu, dan Mia mulai mendekat. Apa mungkin.. Apa mungkin ini akhir hidupku. Ku pejamkan mataku. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi saat kubuka mataku. Ini... Ini bukan mimpi. Tangan mereka... Tangan mereka menuju mataku. Aku berusaha memejamkan mata. Tapi.. Kurasakan sebuah tangan menyentuh pipiku. Jangan-jangan. TIIIDDAAKK!!!
"Who are you?!! What do want from me?! " Dia menunjuk mataku. Benar-benar menunjuk mataku.
"My eyes? MIA!!! Don't you ever do that." DUAR! Suara gemuruh guntur yang sangat besar. Cahaya kilat memasuki ruang keluarga dan menerangi wajah gadis itu. Dia tersenyum. Tapi, itu senyum yang sangat aneh. Senyum seorang pembunuh. Mia mulai mendekatiku. Aku sudah terpojok. Mia masih menunjuk mataku. Lalu, kudengar suara bel rumah berbunyi. Mungkin itu ayah dan ibu. Mungkin mereka bisa membantu. Aku segera mendorong Mia sampai jatuh. Aku berlari sekencangnya menuju pintu. Kubuka pintu itu. Kulihat ayah dan ibuku berdiri di depan pintu. aku segera memeluk mereka.
"Mom, Dad, Mia is trying to kill me." Tapi, mereka hanya diam. Kurasakan badan mereka sangat dingin. Aku berjalan mundur 2 langkah. Kulihat wajah mereka. WHAT???!!! mata mereka. juga hilang. Aku segera berlari ke dalam rumah. Namun di pintu sudah ada Mia. Aku segera berbalik. Tapi ayah dan ibuku sudah menghadang. Aku berlari ke pojok taman. Aku terpojok diantara dinding. Ayah, Ibu, dan Mia mulai mendekat. Apa mungkin.. Apa mungkin ini akhir hidupku. Ku pejamkan mataku. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi saat kubuka mataku. Ini... Ini bukan mimpi. Tangan mereka... Tangan mereka menuju mataku. Aku berusaha memejamkan mata. Tapi.. Kurasakan sebuah tangan menyentuh pipiku. Jangan-jangan. TIIIDDAAKK!!!
"Sunny, wake up!"
"Hah." Aku terbangun. Aku ada di tempat tidurku. aku tak percaya. Itu hanya mimpi. Tapi aku masih bisa merasakan jantungku masih berdetak dengan cepat.
"Are you okay, dear?"
"I'm okay. How time is it, Mom?"
"4 o'clock p.m. Why?"
"Uh... Nothing." Aku segera beranjak dari tempat tidur. Aku segera mengecek ke dapur. Kubuka kran air di wastafel. Tidak terjadi apa-apa. Airnya jernih. Aku pun mandi. Malam ini orang tuaku akan pergi. Aku mengantarkan mereka keluar rumah.
"Sunny, mama pergi dulu ya. Tolong jaga adikmu. Hati-hati di rumah. Kunci pintu dan jendela. Nanti malam akan ada hujan."
"Okay, Mom." Lalu, mama dan papa pun pergi. But, wait... Kalimat ini.. Seperti pernah kudengar.
~The End~

